Jakarta, 5 Maret 2026 – PT Bank Aladin Syariah Tbk menggelar Kelas Edukasi Finansial bagi karyawan Lawson secara hybrid dengan mengangkat tema “Mindset Uang & THR” bertempat di Alfa Tower pada Kamis, 5 Maret 2026 lalu. Program ini merupakan bagian dari komitmen Bank Aladin Syariah dalam memperkuat literasi keuangan di ekosistem Alfa Group. Melalui inisiatif ini, Bank Aladin Syariah ingin mendorong pengelolaan Tunjangan Hari Raya (THR) secara lebih bijak dan berkelanjutan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Edukasi yang dibawakan oleh Financial Planner Ayu Sara Herlia (@MamaBer.UANG) ini juga membagikan sejumlah tips praktis dalam mengelola THR agar tidak habis sebelum Lebaran usai. Dalam sesi tersebut, Ayu Sara menekankan tiga prinsip utama dalam pengelolaan THR.
Pertama, mengubah cara pandang terhadap THR dengan tidak menganggapnya sebagai “uang bonus”, melainkan dana tujuan khusus yang perlu direncanakan sejak awal. Kedua, memprioritaskan kebutuhan utama seperti zakat, biaya mudik, dan kebutuhan keluarga. “Sebelum mengalokasikan dana untuk keinginan konsumtif,” kata Ayu Sara.
Sebagai tips yang terakhir, Ayu Sara menegaskan perlunya membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan tekanan sosial yang sering muncul menjelang Lebaran. “Seperti membeli barang baru atau mengikuti tren demi gengsi,” ucapnya.
Dalam sesi ini, peserta juga diajak melakukan simulasi sederhana pembagian THR dengan mengalokasikan dana untuk kebutuhan hari raya, kebutuhan esensial, serta menyisihkan sebagian untuk tabungan atau dana darurat agar kondisi keuangan tetap sehat setelah Lebaran.
Head of Marketing & Growth Bank Aladin Syariah, Dwiyoga Kartiko Utomo, mengatakan literasi keuangan merupakan bagian penting dalam memperkuat inklusi keuangan digital.
“Sebagai bank syariah digital, kami percaya bahwa akses terhadap layanan keuangan harus diiringi dengan pemahaman yang memadai. Momentum Ramadhan dan pencairan THR menjadi waktu yang tepat untuk mengingatkan pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak. Melalui edukasi ini, kami ingin memastikan bahwa masyarakat tidak hanya memiliki rekening digital, tetapi juga memiliki perencanaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan masih menjadi tantangan di tengah semakin luasnya akses layanan keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan nasional tercatat sebesar 66,46%, sementara tingkat inklusi keuangan telah mencapai 92,74%, yang menunjukkan masih adanya kesenjangan akses terhadap layanan keuangan dengan tingkat pemahaman masyarakat dalam mengelola keuangan secara bijak.
Sejalan dengan berbagai inisiatif literasi dan penguatan ekosistem yang terus dilakukan, Bank Aladin Syariah juga mencatatkan kinerja yang positif. Sebagai bank syariah digital, Bank Aladin Syariah membukukan pertumbuhan yang solid dengan total aset mencapai Rp14 triliun dan jumlah nasabah aktif tumbuh lebih dari 32% per November 2025. Kinerja ini mempertegas komitmen perseroan dalam menghadirkan layanan keuangan syariah digital yang semakin inklusif sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.




